Setiap orang tua pasti ingin anak-anaknya dapat dapat bahagia dan berkembang dengan kemampuan yang optimal. Namun, kombinasi cerdasnya anak itu tidak cukup untuk mencapai tujuan tersebut, mereka perlu juga kuat secara mental.
Membangun kekuatan mental seorang anak tidak tentang mengharapkan mereka menjadi rajin belajar. Namun lebih tentang melatih keterampilan mereka menghadapi berbagai hali sulit, mengendalikan emosi, serta memiliki kepercayaan diri sendiri.
Para ahli telah menyadari bahwa semakin banyak bayi dan anak muda mengalami masalah kesehatan mental karena peningkatan kecemasan dan depresi dalam beberapa tahun terakhir.
“Selama 10 tahun terakhir, saya melihat peningkatan jumlah anak dan remaja yang mengalami kecemasan dan depresi selama saya berpraktik sebagai dokter anak umum. Orang tua mereka khawatir bahwa ini adalah akibat dari trauma,” kata Dr. Katherine Williamson, dokter anak dan sekretaris American Academy of Pediatrics.
“Kami menyaksikan sebuah angka peningkatan anak-anak dan remaja yang menghadapi permasalahan kesehatan mental bahkan sebelum pandemi, tapi ini meningkat secara sangat signifikan sejak pandemi datang,” ujarnya.
Untuk menguatkan mental anak, Anda bisa melakukan beberapa hal yang sederhana. Salah satu cara adalah mengucapkan beberapa kata yang dapat memicu kecerdasan emosional dan keterampilan memecahkan masalah.
|
Baca Juga : 5 Perilaku Orang Tua yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Anak 5 karakteristik orang tua yang mengganggu kesehatan mental anak-anak mereka. 1. “Menggunakan kekerasan fisik” Lakukanlah sikap parental efektif yang jernih dan halus untuk menyampaikan pesan kepada anak. Mereka kurang peduli dengan tuntutan anak mereka. |
“Selamat siang, saya dengan senang hati berbicara dengan Anda hari ini. Saya ingin mengetahui lebih banyak tentang cara ### (isi dari jawaban AI saya Paraphrase)
Psikoterapis Amy Morin membagikan beberapa kalimat sederhana yang bisa memperkuat mental anak. Berikut ini Merangkumkan deretannya:
1. “Apa yang kamu lakukan kepadaku jika temanmu datang kepadamu dengan masalahnya?”
Seorang anak yang merasa kesal cenderung akan tertarik pada pembicaraan yang bersifat negatif. Ketika anak mengatakan hal seperti, “Aku tidak akan pernah lulus ujian matematika”, Bunda mungkin akan dipengaruhi untuk memastikan mereka bahwa hal itu tidak benar.
Bila kita menyelesaikan masalah pada anak secara langsung, mereka akan belajar bergantung pada kita dalam menghadapi masalah sehari-hari.
Saat menyusui, Bunda bisa mengajarkan anak untuk memperbaiki cara berpikir dengan mengatakan, “Bagaimana kamu akan berbicara jika temanmu mengalami hal yang sama?” Ketika mereka memikirkan bagaimana menghibur teman dengan kata-kata positif, pandangan mereka akan berubah, kemudian mereka belajar berbicara pada diri sendiri.
Memanglah wajar kalau kamu merasa seperti itu
Kalimat ini mengatakan bahwa ibu bapa mengakui dan memahami perasaan mereka. Ketika ibu bapa mengaku dan merasa kasihan dengan perasaan anak-anak, mereka akan merasa dilebih-lebihkan dan dierti.
Sebaliknya, mereka tidak khawatir terhadap kesalahan, karena mereka merasakan sesuatu yang nyaman. Mengakui perasaannya juga memperkuat keyakinan mereka dan membuat mereka merasa lebih nyaman untuk membagikan berbagai masalahnya kepada bundanya.
Kamu bisa merasa marah, tapi jangan melakukan tindakan ini
Pada anak-anak, penting bagi mereka untuk memahami beda emosi dan perilaku. Kalimat ini akan membenarkan perasaan anak saat itu juga menentukan batasan yang tepat untuk perilakunya.
Hal ini menunjukkan kepada anak bahwa merasa marah atau sedih adalah hal yang biasanya dialami semua orang. Namun, mereka tidak boleh mengganggu atau menyalahi orang lain.
Itu merupakan kesempatan yang luar biasa bagi Bunda untuk mengajari mereka keterampilan baru untuk mengatasi perasaan negatif itu. Contohnya, Bunda bisa menunjukkan mereka cara mengembuskan napas dalam-dalam atau membicarakan perasaan yang meliputi perasaan anak itu.
4. “Mari kita pekerjaan ini dengan santai”.
Ketika anak merasa tegang atau kesulitan, reaksi ibu biasanya mungkin bertujuan langsung mengatasi masalah tersebut. Namun, penting baginya untuk menyiapkan mereka belajar keahlian mengatasi masalah.
Bila Bunda menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah bersama-sama, Budda akan memberi mereka keyakinan untuk tidak selalu serba sulit oleh sendirian mereka. Dengan menemukan banyak cara untuk mengatasi masalah yang sama, mereka akan merasa lebih percaya diri dalam membuat keputusan yang tepat.
5. “Kamu harus membanggakan diri sendiri karena telah bekerja keras dan usaha yang sudah kamu lakukan”
|
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Erdark
|
Mengakui usaha dan bukan hasil saja akan mengajarkan anak-anak untuk menghargai ketekunan eksklusif atas kesempurnaan. Jika Anda hanya memuji mereka karena mendapatkan nilai tinggi, mereka mungkin menganggap nilai di transkip nilai lebih penting daripada kejujuran atau integritas.
Jika Anda menggunakan frasa ini, Anda akan memberikan mereka motivasi untuk melebihkan diri sendiri tanpa meminta persetujuan orang lain. Dengan begitu, mereka akan belajar dari kegagalan dan percaya diri karena usaha mereka.
6. “Dalam apa pun, kamu cukup berani untuk gagal?”
Biasanya, kegagalan dianggap sesuatu yang bising diharapkan. Namun, anak-anak yang tangguh memahami bahwa ini adalah bagian dari proses tumbuh kembang.
Membicarakan open tentang gagalnya akan mendorong anak-anak untuk mencoba hal baru, berani keluar dari zona nyaman mereka, dan membangun rasa percaya diri, hasilnya apapun.
7. “Apa yang dapat dipelajari dari hal tersebut?”
Kalau ada sesuatu yang kurang beres, anak biasanya auto-excuse paling buruk. Kata-kata ini akan mengalihkan fokus ke pertumbuhan dan pembelajaran.
Hal ini mengajarkan mereka untuk menanggapai rasa kekurangan sebagai peluang mencari peningkatan dan membantu mereka mengembangkan bentuk pikiran ingin tahu, bukan hanya kritik diri.
8. “Apakah kamu membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah atau mengatasi perasaanmu tentang masalah ini?”
Pertanyaan ini akan menjelaskan perbedaan penting antara kesulitan luar dan reaksi dalam diri. Dapat dilihat seperti anak yang khawatir tentang pekerjaan rumah matematika yang sulit sehingga ingin tidak mengerjakan lembar kerja. Membungkam rasa khawatir mungkin akan mengurangi rasa was-was sekarang, bersyukur tidak akan menimbulkan masalah di masa depan.
Agar mereka bisa mengetahui bahwa takut hanya terjadi bila mereka salah. & tahu menghadapi perasaan takutnya itu._preference prioritas mereka ketimbang menghindari masalah sederhana
Mengajari anak-anak untuk mengenali bahwa masalahnya berasal dari situasi atau emosinya akan memberi mereka identitas kontrol atas respons mereka. UNtuk memungkinkan mereka mengenali kapan mereka harus mengubah pola pikiruang masalah mereka.
Apakah ada bukti yang kuat bahwa pemikiran itu benar?
Para anak kecil sering berpikir dengan mutlak, “Aku tidak pintar” atau “Tidak ada yang menyukai aku”. Pertanyaan ini bisa membantu mereka menantang dan mengubah keyakinan seperti itu dengan fokus pada pengecualian.
Seorang anak akan mengingat bahwa ada peristiwa atau faktor ketika pemikiran yang dipunyainya ternyata tidaklah benar, sehingga dapat mengembangkan sisi kritis dan kemampuan berpikir yang lebih fleksibel serta realistis terhadap diri dan lingkungan sekitar.
10. “Mari kita bicara tentang beberapa hal untuk dipercayakan yang kita dapat nikmati hari ini.”
Rasa syukur ditemukan efektif meningkatkan kebahagiaan. Dengan mengubahnya menjadi kebiasaan sehari-hari, Ibu mengajar anak-anak untuk selalu fokus pada hal-hal baik bahkan dalam kesulitan.
Beresan susah hati akan mengajarkan anak-anak bahwa dia tidak kekurangan apa-apa. Hal ini membantu Si Kecil membangun ketahanan emosional dan siap untuk mencari hal-hal positif di dunia.
Berikut informasi tentang kata-kata sederhana untuk membangun kepribadian kuat anak, sayang. Semoga bermanfaat untuk Anda, ya.
|
Pilihan Redaksi
|
. Gratis!