Dari Mama, Sa Belajar Hal Ini

Ma,…….

Pagi kemarin, Sa sedang membersihkan rumah, saat itu juga Sa memutar lagu favorit Mama, ‘Whispering Hope’. Sa ingat, dulunya Mama selalu memutar lagu ini berulang kali, terutama saat bulan Desember tiba.

Aku tiba-tiba merindukan Mama sangat sekali. Mungkin karena sudah dekat hari Natal. Aku sadar saat itu aku punya air mata tercurah. Sudah setahun belakangan untuknya, aku merayakan Natal dengan kakak dan adik.

Ma, ……

Kita rindu rumah kita. Mama selalu mengajari kami untuk berhemat dan kreatif. Mama mengingat kebiasaan yang lo, kalau ingin Natal begini biasa Mama sudah meminta kami membersihkan rumah memang.

Pakai lilin-lilin bekas yang biasa Ibu biasanya pakai untuk berdoa itu, kemudian lulurkan dengan minyak tanah. Lantai terasa mengkilat karena memiliki lantai semen.

Jika tidak, Ibu meminta kakak untuk menggosok dengan ampas sabut kelapa. Ampas kelapa hasil remas santan, digunakan untuk dicampur dengan sayuran ubi dan makanan kepal ikan kering.

Ayah bioskop juga mengajarkan aku untuk selalu hidup bersih. Ayah bilang, “Biar rumah kita sederhana, tapi harus menjaga kebersihannya. Biarlah orang yang berkunjung merasa nyaman.” Ayah perlu defendkan konsep tersebut dengan mencintai kebersihannya Arbeit tau kememang.

Kami masih tertidur nyenyak di pagi hari, tapi Mama sudah menyelesaikan pekerjaan sibuknya mengurus rumah dan mempersiapkan sarapan untuk kami. Tak lupa, juga menyediakan air hangat untuk membersihkan wajah kami karena cuaca yang sangat dingin.

Mama biasa memasak nasi goreng untuk kami dengan sederhana, hanya menggunakan irisan bawang merah dan garam. Tidak pernah memakai saus atau kecap, tapi rasanya seperti makan di restoran mewah paling mahal.

Kemudian ibu memberikan kami nasi goreng yang lezat itu. Ibu memang tahu sudah, jika perut kami sebenarnya cukup dengan porsinya yang diberikan. Selalu tepat, tidak kurang, maupun lebih.

Kami sudah duduk di sekitar meja makan, menggunakan pakaian formally, dan bersiap-siap untuk berdoa sebelum sarapan pagi. Mama mengingatkan kami untuk bersyukur atas kesempatan makan pada hari itu.

Setelah makan, Mama mengatakan, “nasi itu menangis kalau tidak habis.” Itu artinya Mama ingin kami jangan membuang-buang makanan.

“Apakah ibu tahu …. Apakah pernah kamu mencoba mendengar suara nasi menangis? Meskipun kamu mungkin pernah mendengar bunyi tangisannya, piring makan kita selalu bersih,_canvas…karena kami tahu apa kekuatan perut kita.

Ma…….

Kenangan terindah tentang Mama hanyalah sampai usia 12 tahun, tapi masih sangat banyak hal baik yang Mama lakukan yang masih teringat Sak hingga kini.

Ada dua tamu yang spesial itu, bagi Mama, dia tidak pernah pergi sendirian setiap hari, mereka selalu ada untuk menemani hari bahagia sampai hari sulit. Mereka mungkin tidak seperti tamu biasa bagi orang lain, tapi bagi Mama, mereka sangat spesial!

Mama bisa memahami masalah mereka komplet tanpa pernah merasakan kekurangannya, bahkan Mama begitu paham apa yang mereka oppoich.

Saukali, sering kali Sa melihat Mama lagi memasukkan sesuatu, masih ada uang, gula, beras atau bahkan baju, ke dalam keranjang bawaan pedagang sayuran yang datang ke dapur.

Dengan penuh kebahagiaan, dia melihat Mama melakukan segalanya tanpa kesulitan, dan dia pernah mengatakan kepadanya betapa bahagianya dia juga. Padahal, ada tujuh orang anak yang juga masih sekolah, tapi dia juga pernah mengatakan bahwa dia pernah kesulitan (atau kalau menurut dia, dia pernah mengatakan).

Satu hal lagi yang ingat tentang Mama. Mama selalu menanamkan kepada kami pentingnya bersikap jujur. Mama tidak menyukai ketika kami berbohong. Mama punya hukuman ditubuh kami, misalnya membuat lengan atau telinga kami terkena cubitan, sehingga membuat kami menangis hingga sore.

Ma…….

Sekarang itu HUT Nasional lagi. Doa-doa favorit yang selalu Ibuku panjatkan untuk Doa dan adik kakak, semua itu hidup terus di Hati Doa. Meskipun rimmu sudah tidak bersama lagi, Doa selalu merasa Mama ada di sekitar. Ada kehangatan cinta Nan tidak pernah pudar.

Terima kasih, Mama, atas semua cinta dan pengalaman hidup yang kau berikan. Aku tidak akan pernah melupakan semua hal ini. Semoga kau dalam keadaan damai dan selalu di centrokan Tuhan, dan harapan kembali bertemu dengan-Mu sebentar lagi.

Kupang, 16 Desember 2024

Ragu Theodolfi, untuk Kompasiana